Ayah dan Hajar Aswad

Blog Single

“Di perjalanan umroh kedua saya kemarin, saya benar-benar meneguhkan niat saya untuk berusaha mencium Hajar Aswad, karena konon jika kita benar-benar berniat dan terus mencoba, impian tersebut dapat tercapai. Ayah saya mendukung penuh. Beliau mendampingi dan melindungi saya, memasang badan, dan menghalangi desakan jamaah lain yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari kami.

Ketika sampai di depan Hajar Aswad, tadinya saya masih sedikit ragu, masih mempersilakan orang lain mendahului saya. Namun, ketika tidak bisa menemukan keberadaan Ayah saya, mendadak saya mengalami serangan panik. Refleks saya adalah segera mencium Hajar Aswad dan berusaha mencari ayah saya.

Benar dugaan saya. Ayah saya terduduk tidak berdaya di lantai. Terdesak-desak tidak bisa bergerak, kehabisan nafas, dengan puluhan orang berada di atasnya. Saya semakin panik. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan, akhirnya saya memutuskan untuk berteriak sekuat tenaga. Entah bagaimana, tiba-tiba orang-orang mulai memberikan ruang, dan saya segera menarik ayah saya berdiri, keluar dari kerumunan orang-orang yang berdesakan tersebut.

Allah menunjukkan besarnya cinta ayah kepada saya dengan cara yang luar biasa, dengan cara yang tidak akan pernah saya lupakan.”

Metri Anisa Arum, Jakarta